TEGANG
Oleh: Marchilia Damayanti
Hebat, sungguh hebat, nyalinya luar biasa. Keberaniannya melakukan sesuatu yang ekstrim
patut diacungi jempol. Oilu mempertontonkan
kemampuannya seolah tidak ada beban, seperti hal yang biasa. Tantangan kali ini adalah makan sebanyak-banyaknya. Peserta tantangan terdiri dari Oili, Oila,
Oilu, Oilup, dan Oilo. Begitulah kami
ayam yang suka makan sehingga tubuh kami cepat besar dan gemuk.
“Ayooo…ayo….ayo…!” Teman-teman
menyemangati peserta lomba makan. Aku
sendiri sebagai panitia tidak kalah tegang dan semangat. Sudah beberapa kali kami mengadakan lomba
makan seperti ini. Sambutan luar biasa
dari teman-teman membuat kami sering mengadakan lomba. Ketersediaan makanan di kandang tak terbatas sehingga kami bisa makan
sepuasnya.
Oilu berhenti sejenak memperhatikan
peserta lomba lainnya. Ia mengatur nafas
sesaat dan kembali mamatuk makanan yang sudah disiapkan. Demikian juga peserta lomba makan
lainnya. Pengalaman Oilu mengatur strategi
cara makan patut ditiru. Gaya santainya
ketika makan menyiratkan sudah terbiasa melakukan hal ini.
“Oili…apa yang kamu lakukan?”
Tanyaku.
“Ah…tidak, aku hanya ingin minum
dulu. Kerongkonganku mulai penuh ” kata
Oili terbata.
“Ooooo, baiklah.”
Waktu hampir habis, para peserta
semakin semangat melahap makanan. Oilup
terlihat gugup dan akhirnya menyerah.
“Kamu kenapa Oilup?”
“Aku tersedak dan hampir tidak bisa
bernafas,” katanya
“Kalau begitu kamu minum dulu dan
menenangkan diri tidak usah melanjutkan perlombaan lagi,” saranku.
Oilup menyetujui saranku kemudian ia
menepi, menarik diri dari kerumunan.
Wajahnya tampak pucat. Aku
mendekatinya,” Kamu tidak apa-apa Oilup?”
“Sedikit lemas Oiler,” katanya.
“Tenangkan dirimu,”
“Iya aku beristirahat di sana saja.”
Aku terus mendampinginya khawatir
jika terjadi apa-apa dengan Oilup. Tidak
lupa aku memberinya air minum ketika ia membutuhkannya.
“Hik…hik…,”
Oilup mengeluarkan suara yang
membuatku panik.
“Oilup…Oilup…kamu baik-baik saja
kan?”
”Minta… air… Oiler,” tuturnya lirih
Aku menyodorkan air minum yang ada di
tangan kepada Oilup. Oilup dengan segera
meminumnya. Tidak lama kemudian ia
menyandarkan tubuhnya ke dinding. Wajanya
terlihat pucat pasi.
Perlombaan sudah usai. Aku mulai khawatir
dengan kondisi Oilup. Aku memanggil
beberapa teman untuk berdiskusi mengenai keadaannya.
“Kita pijat,” usul Oila
“Kita beri obat saja.”
“Kita biarkan dulu ia istirahat.”
Kami mencoba melakukan apa yang disarankan
oleh teman-teman. Alhamdulillah keadaaan
Oilup sudah mulai membaik.
Berangsur-angsur wajahnya mulai memerah kembali, pernafasannya sudah
normal. Perlahan ia berdiri dan tersenyum
nyengir menahan nyeri.
“Hati-hati Oilup, pelan-pelan saja,”
kataku.
Aku sebagai panitia perlombaan yang semula
sangat cemas menjadi lega melihat kesehatan
Oilup berlangsung pulih kembali. Syukurlah…
#60HMB
#BATCH9
#DAY35
Tidak ada komentar:
Posting Komentar