“KATAKAN IPAL”
Ipal
lagi-lagi menundukkan kepalanya. Sikapnya beberapa hari ini membuat kami
kebingungan. Ia sering kali menghindar
jika bertemu dengan kami. Sepertinya ada yang ia rahasiakan. Ketika bertemu di pematang sawah ia berjalan
menjauh dari kami. Pada saat makan bersama ia mengambil tempat di sudut
menyendiri. Wajahnya tampak murung menunjukkan kesedihan yang amat sangat.
Sikapnya
yang tiba-tiba aneh membuat kami penasaran dan berusaha mencari tahu ada apa
dengannya Berdasarkan hasil pembicaraan kami satu kelompok menyepakati untuk
membantu Ipal keluar dari masalahnya. Maka kami memutuskan sengaja mendatangi
tempat Ipal untuk menghiburnya.
Selama
berada di tempat Ipal aku dan teman-teman berusaha bersikap wajar seolah tidak
sedang menyelidik. Teman-teman lain juga
sudah aku beritahu jika kita sedang bersama Ipal bersikap seolah tidak ada
apa-apa.
“Ipit,
jangan lupa atur strategi ya,” kataku
“Siap
komandan.” jawabnya sambil tersenyum
“Ingat
ya teman-teman misi kita. Kita membantu menyelesaikan masalah dengan tetap memberikan rasa nyaman.”
Ipit
lalu mengatur strategi yang akan kami gunakan.
Ipit memang ahli di bidang ini, banyak pengalaman yang sudah membuktikan
bahwa ia dapat kami andalkan. Ketika ada
diantara kami mengalami masalah maka Ipitlah yang ditunjuk sebagai ketua
pelaksana eksekusi.
Kami
sedang mencari makanan di sawah, dari kejauhan terlihat rombongan itik lain
juga sedang menuju ke arah kami. Semakin
lama rombongan itu semakin mendekat. Tanpa
basa-basi, sesampainya di tempat kami mereka juga langsung menyantap makanan bersama-sama. Kami yang terlebih dahulu berada di tempat
itu sangat terganggu dengan kedatangan mereka.
Sesaat kelompok kami berhenti makan.
Kami memperhatikan mereka menyantap makanan dengan lahapnya.
Di
satu sudut pematang tampak Ipal duduk menyendiri, namun kami perhatikan
sesekali ekor matanya melihat ke arah kami.
Kami pun curiga, mengapa ia selalu mencuri pandang ke arah kami.
“Ipit,
kamu lihat raut wajah Ipal tidak?” tanyaku
“Iya,
dari tadi sesekali ia melihat ke arah kita.”
“Aku
curiga dengan gerak-geriknya, seperti ada yang ia sembunyikan.”
Kecurigaanku
bertambah manakala ada salah satu itik dari rombongan lain mendatangi Ipal dan
mereka asyik berdiskusi. Kejadian itu
berulang, ada itik lain lagi mendatangi Ipal, mereka mengobrol sesaat dan
berpisah.
“Hei,
teman-teman saatnya beraksi,” ujarku
“Ok
siaaap!” seru yang lain
Kami
pun berpencar sesuai strategi yang sudah diatur oleh Ipit. Ada yang bergabung dengan rombongan lain, ada
yang pura-pura berjalan di dekat Ipal, mendekati itik yang sedang menyantap
makanan sambil bercerita, dan masih banyak aksi kami untuk mendapatkan
informasi. Tentu saja aksi yang kami lakukan
tanpa sepengetahuan Ipal.
Seharian
kami berada di sawah bersama rombongan lain tadi sudah cukup memberikan banyak
informasi yang kami butuhkan. Tanpa menunggu berlama-lama, kami pun melakukan
diskusi dengan mengumpulkan informasi yang sudah kami dapatkan.
Satu
per satu teman-teman mengeluarkan informasi yang sudah mereka peroleh.
“Teman-teman
kita tidak bisa membiarkan sikap Ipal,” kata Ipit.
“Ya,
kita harus mengambil tindakan,” ujar Itong
“Ipal
sangat merugikan kita,” ungkap yang lain
“Kita
harus memanggil Ipal untuk menanyakan, mengapa ia berani membocorkan rahasia
keberadaan sumber makanan kita kepada rombongan lain,” saranku.
“Ya,
mau tidak mau kita harus memberikan peringatan kepada Ipal.”
Setelah
terkumpul saran dan pendapat maka kami memutuskan untuk mengundang Ipal pada
malam harinya. Kami menghampiri Ipal yang sedang duduk menyendiri.
“Ipal
boleh kami ngobrol sebentar?” tanya Ipit.
Ia
mendongakkan kepala, wajahnya menunjukkan ketidaksiapan menerima kami. Dengan tergopoh-gopoh
ia menggeser duduknya dan mempersilakan kami.
#60HMB
#BATCH9
#DAY56
Tidak ada komentar:
Posting Komentar