Sabtu, 19 Februari 2022

IPO

 

I P O


            “Jangan dekati dia,”kata Isa

            “Jauhi dia, dia pembawa sial,” bisik Idul

            “Iya, dia pembawa sial,”guman Iti

            “Iiihhh, ngeri aku,” ucap Ika

            Aku yang mendengar bisik-bisik mereka langsung bereaksi.  Aku membalikkan badan  dan menghampiri mereka yang sedang berkumpul. 

            “Apa yang sedang kalian lakukan.  Apakah kalian sudah merasa sempurna?” kataku agak sedikit marah.  Mereka malah menunjukkan ketidaksukannya padaku.

            “Hei, apa urusanmu dengan dia.  Kenapa kamu membelanya?”

            “Tidak perlu kamu ikut campur urusan kami.”

            “Memangnya kamu siapa?”

            Mereka begitu marah melihat reaksiku yang bertentangan dengan sikap mereka, bahkan  langsung pergi menjauhi aku.  Aku hanya memandangi kepergian mereka dengan tatapan kosong.  Mereka begitu tega terhadap Ipo. Sikap mereka sangat melukai hati Ipo.

            “Ipo, sabar ya…jangan kamu ambil hati kata-kata mereka,” kataku kepada Ipo yang sedari tadi tertunduk lesu.  Aku ajak Ipo menepi ke pinggir sawah dengan berusaha mengalihkan pembicaraan agar Ipo tidak sedih lagi.

            Ipo adalah itik yang memiliki kaki tiga, dua kaki seperti kebanyakan itik dan satu kaki terletak di atas kloakanya.  Kelainan ini merupakan bawaan dari lahir.  Sejak pertama menetas sudah memiliki tiga kaki.  Pertama kali aku bertemu Ipo juga sempat heran, kok ia memiliki kaki yang berbeda dengan itik lainnya.  Tetapi aku langsung menyadari bahwa kakinya adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa.

            Seperti biasanya setiap hari kami harus mencari makan sendiri di area persawahan. Kami berada pada penggembalaan yang sama dengan gerombolan itik yang menghina Ipo.  Ipo tampak biasa-biasa saja ketika bertemu dengan mereka.  Tetapi sebaliknya mereka menghindari Ipo, berjalan dengan memiringkan badannya sambil mendongakkan kepala. Kejadian ini sering terjadi. Aku dan Ipo hanya melihat mereka berlalu tanpa berkata apa-apa.  Sepertinya Ipo sudah mulai terbiasa dengan sikap mereka. 

            Tiba-tiba…

            “Gedubrak…buff…pang…prang…kweeek…kweeeek…kweeeek!”

            Kami terkejut langsung melihat ke arah sumber suara.  Astaga… segerombolan itik lain menyerang kelompok Isa dan kawan-kawan. Kami segera berlari untuk melihat apa yang terjadi.  Mereka saling serang dengan mematuk dan memukulkan sayapnya.  Satu sama lain tidak ada yang mau mengalah.  Bahkan ada yang sudah berdarah.

            “Cukuuuup,  berhenti! “Heiiii….” teriakku.  Tetapi mereka tetap saja berkelahi.  Aku sudah kehabisan akal.  Aku melihat ke arah Ipo.  Ia menganggukkan kepala, memberi isyarat kepadaku untuk mundur.  Akupun mengikuti sarannya. 

            Tanpa kuduga Ipo maju ke tengah arena perkelahian dan mulai memisahkan mereka.  Terlihat dengan lincahnya ia menendang ke tiga arah, kiri, kanan, dan… ya ampun ke belakang.  Ya Allah…ternyata dibalik perbedaan itu, ada rahasia yang kita tidak ketahui.  Perkelahian sudah mereda, gerombolan asing tadi sudah meninggalkan kami. 

            Isa, Idul, Iti dan Ika tertunduk malu.  Tubuh mereka penuh luka akbat perkelahian tadi.  Aku segera menghampiri mereka dan memberi nasihat agar tidak bersikap semena-mena lagi.

            “Nahh, itu kan, kalian jangan memandang sebelah mata siapapun.  Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.  Sekarang kalian minta ma’af sama Ipo.

            “Ipo kami minta maaf ya…kami tidak akan mengulangi lagi berbuat tidak terpuji.”

            “Iya, sama-sama,” ucap Ipo sambil tersenyum. Aahh, Ipo kamu memang itik luar biasa.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY47

             

           

           

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar