I P O
“Jangan
dekati dia,”kata Isa
“Jauhi
dia, dia pembawa sial,” bisik Idul
“Iya,
dia pembawa sial,”guman Iti
“Iiihhh,
ngeri aku,” ucap Ika
Aku
yang mendengar bisik-bisik mereka langsung bereaksi. Aku membalikkan badan dan menghampiri mereka yang sedang berkumpul.
“Apa
yang sedang kalian lakukan. Apakah
kalian sudah merasa sempurna?” kataku agak sedikit marah. Mereka malah menunjukkan ketidaksukannya
padaku.
“Hei,
apa urusanmu dengan dia. Kenapa kamu
membelanya?”
“Tidak
perlu kamu ikut campur urusan kami.”
“Memangnya
kamu siapa?”
Mereka
begitu marah melihat reaksiku yang bertentangan dengan sikap mereka, bahkan langsung pergi menjauhi aku. Aku hanya memandangi kepergian mereka dengan
tatapan kosong. Mereka begitu tega
terhadap Ipo. Sikap mereka sangat melukai hati Ipo.
“Ipo,
sabar ya…jangan kamu ambil hati kata-kata mereka,” kataku kepada Ipo yang
sedari tadi tertunduk lesu. Aku ajak Ipo
menepi ke pinggir sawah dengan berusaha mengalihkan pembicaraan agar Ipo tidak
sedih lagi.
Ipo
adalah itik yang memiliki kaki tiga, dua kaki seperti kebanyakan itik dan satu
kaki terletak di atas kloakanya.
Kelainan ini merupakan bawaan dari lahir. Sejak pertama menetas sudah memiliki tiga
kaki. Pertama kali aku bertemu Ipo juga
sempat heran, kok ia memiliki kaki yang berbeda dengan itik lainnya. Tetapi aku langsung menyadari bahwa kakinya
adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa.
Seperti
biasanya setiap hari kami harus mencari makan sendiri di area persawahan. Kami
berada pada penggembalaan yang sama dengan gerombolan itik yang menghina Ipo. Ipo tampak biasa-biasa saja ketika bertemu
dengan mereka. Tetapi sebaliknya mereka
menghindari Ipo, berjalan dengan memiringkan badannya sambil mendongakkan
kepala. Kejadian ini sering terjadi. Aku dan Ipo hanya melihat mereka berlalu
tanpa berkata apa-apa. Sepertinya Ipo
sudah mulai terbiasa dengan sikap mereka.
Tiba-tiba…
“Gedubrak…buff…pang…prang…kweeek…kweeeek…kweeeek!”
Kami
terkejut langsung melihat ke arah sumber suara.
Astaga… segerombolan itik lain menyerang kelompok Isa dan kawan-kawan. Kami
segera berlari untuk melihat apa yang terjadi.
Mereka saling serang dengan mematuk dan memukulkan sayapnya. Satu sama lain tidak ada yang mau
mengalah. Bahkan ada yang sudah
berdarah.
“Cukuuuup, berhenti! “Heiiii….” teriakku. Tetapi mereka tetap saja berkelahi. Aku sudah kehabisan akal. Aku melihat ke arah Ipo. Ia menganggukkan kepala, memberi isyarat
kepadaku untuk mundur. Akupun mengikuti
sarannya.
Tanpa
kuduga Ipo maju ke tengah arena perkelahian dan mulai memisahkan mereka. Terlihat dengan lincahnya ia menendang ke
tiga arah, kiri, kanan, dan… ya ampun ke belakang. Ya Allah…ternyata dibalik perbedaan itu, ada
rahasia yang kita tidak ketahui. Perkelahian
sudah mereda, gerombolan asing tadi sudah meninggalkan kami.
Isa,
Idul, Iti dan Ika tertunduk malu. Tubuh mereka
penuh luka akbat perkelahian tadi. Aku
segera menghampiri mereka dan memberi nasihat agar tidak bersikap semena-mena
lagi.
“Nahh,
itu kan, kalian jangan memandang sebelah mata siapapun. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Sekarang kalian minta ma’af sama Ipo.
“Ipo
kami minta maaf ya…kami tidak akan mengulangi lagi berbuat tidak terpuji.”
“Iya,
sama-sama,” ucap Ipo sambil tersenyum. Aahh, Ipo kamu memang itik luar biasa.
#60HMB
#BATCH9
#DAY47
Tidak ada komentar:
Posting Komentar