Jumat, 04 Februari 2022

 

TAS IMPIAN

Oleh: Marchilia Damayanti

 

            Kukejar Aji sambil memanggil setengah berteriak.

            “Aji, lihat tasmu.”

            Semakin kukejar semakin menjauh ia meninggalkanku.  Capek juga mengejar Aji, aku berhenti sesaat untuk mengatur nafas.  Dari kejauhan Aji memandangiku sambil tertawa terbahak-bahak.

            “Ayo! Kejar aku!” Serunya.

            “Aji sudahlah, lihat dulu,” pintaku.

            “Nggak mau, ayo semangaaat.”

            Matahari terik di atas kepala cukup membuatku kelelahan setelah berlarian mengejar Aji. 

            “Ah,  lumayan ada pohon,” batinku.

            Aku beristirahat lagi di bawah pohon untuk mengumpulkan tenaga.  Sejuk angin sepoi-sepoi membuatku relaks. Sementara Aji di sana lagi asyik mengamati tas kebanggaannya.  Sesekali ia melihat ke arahku, khawatir kalau aku mengejarnya lagi. Kelelahan yang amat sangat membuat mataku mulai sedikit meredup tertiup angin.  Lama kelamaan semakin menutup dan aku tertidur.

            “Pinjam donk Aji.”

            “Jangan!” Seru Aji ketus

            “Pinjaaaam,” pintaku lagi

            Aku meraih tas baru Aji, ia terus mempertahankannya.  Semakin kutarik semakin kuat pula ia memegang. Aku menariknya terus, Ajipun tidak kalah kuat, ia terus bertahan, enggan memberikan tasnya kepadaku.  Tas yang dalam keadaan terbuka resletingnya menjadi bahan adu kekuatan aku dan Aji. Hal ini berlangsung lama.  Hingga….”Kreek”, terdengar suara seperti kain terobek.  Sekonyong-konyong kami berhenti menarik tas itu.  Kami saling pandang, aku ketakutan dan Aji memerah mukanya melihat aku.  Terlihat kekesalahan dan kemarahan di wajahnya.

            Aku ketakutan dan mempercepat langkah berlari  pulang meninggalkan Aji sendirian.  Aji tidak kalah gesitnya, ia meraih tanganku dan bersiap memukul.

            “Ampun Aji…Ampuuun..Aku tidak sengaja…,” kataku

            “Imam…Imam….” Terdengar suara lirih di telingaku.

            “Imam…Imam…bangun!” Semakin keras suara terdengar.

            “Jangan…! Jangan…! Jangan pukulku!”

            “Ampuuuun!”

            “Aku tidak senagaja!”Seruku lagi.

            Samar-samar terdengar suara orang tertawa terbahak-bahak.  Setengah sadar aku duduk berssandar di bawah pohon.  Semakin kuat suara tertawa kudengar.

            “Hah!”Aku kaget bukan kepalang.

            Kulihat Budi dan Aji terpingkal-pingkal melihat gayaku yang tidak berdaya. 

            “Imam…Imam… sudah sadar?” Tanya Budi.

            Aku menggosok-gosok mataku supaya terbuka dan melihat sekeliling. Aku memandang Budi dan Aji sedikit tersipu malu.  

            “Alhamdulillah.”

            Ternyata kejadian tadi hanya mimpi.  Syukurlah…

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY32

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar