TAS
IMPIAN
Oleh:
Marchilia Damayanti
Kukejar Aji sambil memanggil
setengah berteriak.
“Aji, lihat tasmu.”
Semakin kukejar semakin menjauh ia
meninggalkanku. Capek juga mengejar Aji,
aku berhenti sesaat untuk mengatur nafas.
Dari kejauhan Aji memandangiku sambil tertawa terbahak-bahak.
“Ayo! Kejar aku!” Serunya.
“Aji sudahlah, lihat dulu,” pintaku.
“Nggak mau, ayo semangaaat.”
Matahari terik di atas kepala cukup
membuatku kelelahan setelah berlarian mengejar Aji.
“Ah, lumayan ada pohon,” batinku.
Aku beristirahat lagi di bawah pohon
untuk mengumpulkan tenaga. Sejuk angin sepoi-sepoi
membuatku relaks. Sementara Aji di sana lagi asyik mengamati tas
kebanggaannya. Sesekali ia melihat ke
arahku, khawatir kalau aku mengejarnya lagi. Kelelahan yang amat sangat membuat
mataku mulai sedikit meredup tertiup angin.
Lama kelamaan semakin menutup dan aku tertidur.
“Pinjam donk Aji.”
“Jangan!” Seru Aji ketus
“Pinjaaaam,” pintaku lagi
Aku meraih tas baru Aji, ia terus
mempertahankannya. Semakin kutarik semakin
kuat pula ia memegang. Aku menariknya terus, Ajipun tidak kalah kuat, ia terus
bertahan, enggan memberikan tasnya kepadaku.
Tas yang dalam keadaan terbuka resletingnya menjadi bahan adu kekuatan
aku dan Aji. Hal ini berlangsung lama.
Hingga….”Kreek”, terdengar suara seperti kain terobek. Sekonyong-konyong kami berhenti menarik tas
itu. Kami saling pandang, aku ketakutan
dan Aji memerah mukanya melihat aku.
Terlihat kekesalahan dan kemarahan di wajahnya.
Aku ketakutan dan mempercepat
langkah berlari pulang meninggalkan Aji
sendirian. Aji tidak kalah gesitnya, ia
meraih tanganku dan bersiap memukul.
“Ampun Aji…Ampuuun..Aku tidak
sengaja…,” kataku
“Imam…Imam….” Terdengar suara lirih
di telingaku.
“Imam…Imam…bangun!” Semakin keras
suara terdengar.
“Jangan…! Jangan…! Jangan pukulku!”
“Ampuuuun!”
“Aku tidak senagaja!”Seruku lagi.
Samar-samar terdengar suara orang
tertawa terbahak-bahak. Setengah sadar
aku duduk berssandar di bawah pohon.
Semakin kuat suara tertawa kudengar.
“Hah!”Aku kaget bukan kepalang.
Kulihat Budi dan Aji
terpingkal-pingkal melihat gayaku yang tidak berdaya.
“Imam…Imam… sudah sadar?” Tanya
Budi.
Aku menggosok-gosok mataku supaya
terbuka dan melihat sekeliling. Aku memandang Budi dan Aji sedikit tersipu
malu.
“Alhamdulillah.”
Ternyata kejadian tadi hanya mimpi. Syukurlah…
#60HMB
#BATCH9
#DAY32
Tidak ada komentar:
Posting Komentar